perkawinan

BAB II

PEMBAHASAN

LARANGAN MEMBUJANG BAGI YANG MAMPU KAWIN

  1. A.    DEFINISI/PENGERTIAN PERKAWINAN

Ta’rif perkawinan yaitu “aqad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban serta bertolong-tolongan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang antara keduanya bukan muhrim”.

Nikah adalah salah satu asas pokok hidup yang terutama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna, bukan saja perkawinan itu satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi perkawinan itu juga dapat dipandang sebagai satu jalan menuju pintu perkenalan antara satu kaum dengan kaum yang lainnya. Serta perkenalan itu akan menjadi jalan buat menyampaikan kepada sikap saling tolong-menolong antara yang satu dengan yang lainnya.

Sebenarnya pertalian nikah adalah pertalian yang seteguh-teguhnya dalam hidup dan kehidupan manusia, bukan saja antara suami istri dan keturunannya, bahkan antara kedua belah pihak keluarga. Betapa tidak ??? dari sebab baik pergaulan antara si istri dengan suaminya, kasih mengasihi, akan menyebabkan berpindahlah kebaikan itu kepada semua keluarga dari kedua belah pihaknya, sehingga mereka menjadi satu dalam segala urusan bertolong-tolongan sesamanya dalam menjalankan kebaikan dan menjaga segala kejahatan. Selain daripada itu, dengan perkawinan seseorang akan terpelihara daripada kebinasaan hawa nafsunya.

 

  1. B.     LARANGAN MEMBUJANG BAGI YANG MAMPU KAWIN

Masa muda adalah masa yang sangat rentan dan mudah untuk terjerumus dalam dunia pergaulan seks bebas. Dan pada masa ini juga masa timbulnya birahi dan syahwat terhadap wanita yang sangat menggelora. Oleh karena itu sangat dianjurkannya bagi para pemuda dan pemudi yang sudah mampu secara lahir dan bathin untuk melaksanakan pernikahan/perkawinan.

Pada dasarnya, hukum pernikahan itu adalah jaiz (boleh), berhukum sunnah, ini bagi orang yang berkehendak serta sudah mencukupi untuk belanjanya (nafkah dan lain-lainnya). Hukumnya berubah menjadi wajib, ini atas orang yang sudah cukup mempunyai belanja (nafkah) serta dia takut tergoda dan terjerumus kepada kejahatan (zina). Berhukum makruh, ini terhadap orang-orang yang tidak mampu member nafkah dan dikhawatirkan dia tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Dan menjadi haram hukumnya apabila orang itu menikah dengan niat akan menyakiti perempuan yang akan dia nikahi itu.

Sabda rausulullah SAW.

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فانه اغض للبصر واحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاء (متفق عليه)

 

Artinya : “wahai para pemuda, barang siapa yang mampu di antara kamu serta berkeinginan untuk kawin, hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan matanya terhadap orang yang tidak halal  dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Dan barang siiapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa, karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang”.

Hadits ini ditujukan kepada para pemuda, karena mereka sedang dalam masa menggeloranya birahi dan syahwat terhadap wanita. Yang dimaksud dengan kata “al-ba’ata” dalam hadits ini adalah jimak atau bersetubuh.

Oleh karena itu, faedah yang terbesar dalam perkawinan ialah untuk menjaga dan memelihara perempuan yang bersifat lemah itu dari kebinasaan. Sebab seorang perempuan apabila ia sudah kawin, maka nafkahnya (belanjanya) jadi wajib atas tanggungan suaminya. Perkawinan juga berguna untuk memelihara kerukunan anak cucu (keturunan), sebab kalau tidak dengan nikah tentulah  anak tidak berketentuan siapa yang akan mengurusnya dan siapa yang bertanggung jawab atasnya. Dan dengan pernikahan juga memelihara keturunan. Dalam arti nyata siapa orang tuanya.

Nikah juga dipandang sebagai kemaslahatan umum karena kalau tidak dengan pernikahan tentu manusia akan menuruti sifat kebinatangan dan sama dengan binatang, dan dengan sifat itu akan timbul perselisihan bencana dan permusuhan antara sesamanya yang mungkin juga sampai menimbulkan sikap saling bermusuhan dan membunuh yang maha dahsyat.

Demikianlah maksud perkawinan yang sejati dalam hukum islam. Dengan singkat untuk kemaslahatan dalam ruumah tangga dan keturunan, juga untuk kemaslahatan di dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam hadits lain rasulullah sangat menganjurkan kepada semua umat islam untuk menikah dengan wanita yang ia sukai dan ia senangi dan melarang keras umatnya untuk membujang. Karena dengan menikah akan melahirkan lebih banyak umat nabi Muhammad SAW dan dengan banyaknya umat nabi Muhammad  akan lebih merasa bangga dan megah.

Sabda rasulullah saw :

عن انس بن مالك رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يامرنا با لباءة وينهى عن التبتل نهيا شديدا, ويقول : تزوجوا الولود الودود فانى مكاثربكم الامم يوم القيامة. رواه احمد وصححه ابن حبان وله شاهد عند ابى داود والنسائى وابن حبان من حديث معقل بن يسار

Artinya : “dari anas bin malik ra. Ia berkata : Rasulullah SAW telah memerintahkan kami untuk berumah tangga (kawin) dan melarang keras membujang (tidak kawin). Beliau bersabda : “kawinlah dengan wanita yang banyak anak dan besar kasih sayangnya karena sesungguhnya aku dengan kamu berlomba memperbanyak umat dengan para nabi terdahulu  kelak di hari kiamat.” (HR. Ahmad) dan  dishahihkan oleh ibnu hibban. Bagi hadits ini terdapat saksi disisi abu dawud, nasa’I, dan ibnu hibban dari hadits mma’kil bin yasar.

Yang dimaksud dengan kata at-tabattul adalah menjauh dari wanita dan meninggalkan kawin dengan tujuan untuk menekuni ibadah kepada allah. Dalam hal ini umat islam di dunia ini tidak hanya diwajibkan untuk beribadah semata, dan melupakan kedudukannya sebagai makhluk social bermasyarakat yang butuh pendamping hidup dalam menjalankan roda kehidupan berumah tangga.

Pernikahan juga merupakan sunnah nabi dan juga termasuk ibadah bagi orang yang mengikuti dan menunaikannya.

Sabda nabi Muhammad SAW :

عن انس بن مالك رضي الله عنه, ان النبي صلى الله عليه وسلم حمد الله واثنى عليه وقال : لكنى انا اصلى, وانام, واصوم, وافطر, واتزوج النساء, فمن رغب عن سنتى فليس منى. (متفق عليه)

 

Artinya : “dari anas bin malik ra. Bahwasanya nabi saw telah memuji dan menyanjung allah dan beliau bersabda : akan tetapi aku melakukan shalat,  tidur, berpuasa, berbuka, dan mmenikahi wanita. Barang siiapa yang tidak suka terhadap sunnahku (tindakanku), ia bukan termasuk ummatku. (muttafaqun alaih).

Hadits ini terjadi ketika tiga golongan datang ke rumah istri nabi dan menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah mereka diberitahu, seolah-olah mereka tidak setuju salah sorang dari mereka berkata : “aku telah melakukan shalat malam selamanya”. Yang kedua berkata : “aku berpuasa tahun dan tidak berbuka”. Yang ketiga berkata : “aku menjauhkan diri dari perempuan dan tidak kawin. Kemudian nabi SAW dating dan bersabda : “kamulah yang berkata demikian ?”. demi allah, sesungguhnya aku yang paling takut dan bertaqwa kkepada allah di antara kamu, tetapi aku shalat, tidur, berpuasa, berbuka dan menikahi wanita. Barang siapa yang tidak  suka terhadap sunnahku (tindakanku) ia bukan termasuk ummatku.

Hadits ini menunjukkan bahwa nikah atau kawin termasuk di antara sunnah nabi saw. Nikah atau kawin membuat ketentraman dan ketenangan hati manusia agar mereka dapat berlaku sedang dalam beribadah dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengganggu dan mengurangi  dalam beribadah.  Seseorang yang sudah menikah akan lebih terfokus terhadap allah dalam menjalankan ibadah kepadanya karena tidak terbebani oleh hal-hal lain yang mencakup masalah wanita. Dan ibadah orang yang sudah menikah dengan orang yang masih membujang itu dihitung beda ibadahnya orang yang sudah menikah balasannya dilipatgandakan dari orang yang belum menikah.

Dari semua hadits tentang larangan nabi saw membujang ini dijadikan dalil oleh ulama’ yang berpendapat atas wajibnya kawin. Ibnu hajar berkata dalam fathul bari : tentang hokum kawin bagi laki-laki, oleh ulama dibagi dalam beberapa macam : bagi orang yang telah menginginkannya yang mampu memikul beban nikah, sedang dia khawatir atas dirinya jatuh dalam larangan agama, maka ia disunatkan kawin menurut kesepakatan ulama’. Golongan hanabilah menambahkan dalam salah satu riwayatnya : diwajibkan kawin. Yang berpendapat seperti itu adalah abu ausanah al-asfiraqini dari ulama’ syafi’iyah sebagaimana yang dijelaskan dalam shahihnya. Sedang al-mas’abi menukilnya dari mukhtashor al-juaini, bahwa pendapat demikian itu ialah pendapat dawud dan kawan-kawan. Syarih berkata : termasuk yang berpendapat demikian ialah al-hadawiyah dengan catatan kalau khawatir jatuh ke dalam ma’shiat jika tidak kawin.

Ibnu hamz berkata : diwajibkan nikah atas orang yang telah berkuasa mengumpuli istri jika ia mampu memikul beban nikah, jika tidak mampu sering-seringlah berpuasa. Demikian pendapat segolongan ulama’ salaf.

Syaikh berkata : pendapat yang masyhur dari ahmad, bahwa bagi orang yang telah berpuasa dan telah menginginkan kawin selagi tidak ada kekhawatiran atas  dirinya jatuh ke dalam mma’shiat. Al-gosbi berkata : orang yang telah mampu yang menghawatirkan dirinya dan agamanya dalam bahaya jika ia tetap membujang dan tidak ada jalan lain melainkan harus kawin maka tidak diperselisihkan lagi atas wajib kawin baginya.

Ibnu doqiqil ‘id meriwayatkan dari al-maziri atas wajibnya kawin bagi orang yang khawatir jatuh dalam kema’siatan dan haram bagi orang yang tidak mampu memikul beban nikah dan mengumpuli istri serta makruh kalau tidak ada bahaya (yang dikhawatirkan) dan lebih dimakruhkan lagi kalau dengan kawin tersebut dapat merusak kebiasaan melakukan keta’atan (ibadah) da sunat. Bagi orang yang dengan kawin itu dapat mematahkan keinginan syahwatnya dan menjaga kehormatan dirinya serta kemaluannya dan mubah apabila factor-faktor yang mendorong untuk kawin dan yang menghalanginya itu berimbang.

Qodi’iyat berkata : disunatkan kawin bagi orang yang mengharapkan keturunan meskipun syahwatnya dingin, demikian juga bagi orang yang menginginkan bersenang-senang dengan perempuan tanpa melakukan pencampuran. Adapun bagi orang yang tidak mempunyai keturunan tidak mempunyai keinginan kawin dan bersenang-senang dengan perempuan maka baginya disunatkan kawin dengan perempuan yang memang mengetahui keadaannya yang demikian itu dan ridha. Ibnu taimiyah berkata di dialam al-ikhtiyarot : tidak menginginkan berkeluarga dan berketurunan adalah sikap tidak disukai oleh allah swt dan rasulnya dan tidak berasal dari ajaran agama para nabi, karena allah swt. Berfirman dalam QS. Ar-Ra’du ayat 38 :

ô‰s)s9ur $uZù=y™ö‘r& Wxߙ①`ÏiB y7Î=ö6s% $uZù=yèy_ur öNçlm; %[`ºurø—r& Zp­ƒÍh‘èŒur 4

“Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan”

 

Dan bagi kedua orang tua tidak berhak memaksa  anaknya untuk kawin dengan orang yang tidak ia sukai agar supaya anak itu tidak menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya sebagaimana memaksakan memakan apa yang ia tidak sukai. Selanjutnya ia berkata : dan bagi orang yang telah berkeinginan untuk kawin dan jatuh ke dalam bahaya maka ia harus mendahulukan kawin daripada ibadah hajji yang wajib. Tetapi jika tidak ada kekhawatiran demikian, maka dia harus mendahulukan haji. Dan imam  ahmad juga berpendapat itulah yang dipilih oleh abu bakar, tetapi jika ibadah itu fardhu kifayah, seperti menuntut ilmu  dan jihad maka haji harus didahulukan daripada nikah, jika tidak dikhawatirkan jatuh dalam bahaya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s