Al-kaelani

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKAN

         Dalam sejarah pemikiran filsafat abad pertengahan, sosok Ibnu Sina dalam banyak hal unik, sedang diantara para filosof muslim ia tidak hanya unik, tapi juga memperoleh penghargaan yang semakin tinggi hingga masa modern. Ia adalah satu – satunya filosof besar Islam yang telah berhasil membangun sistem filsafat yang lengkap dan terperinci, suatu sistem yang telah mendominasi tradisi filsafat muslim beberapa abad.

         Pengaruh ini terwujud bukan hanya karena ia memiliki sistem, tetapi karena sistem yang ia miliki itu menampakkan keasliannya yang menunjukkan jenis jiwa yang jenius dalam menemukan metode – metode dan alasan – alasan yang diperlukan untuk merumuskan kembali pemikiran rasional murni dan tradisi intelektual Hellenisme yang ia warisi dan lebih jauh lagi dalam sistem keagamaan Islam.

 

  1. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah dari makalah ini antara lain:

  1. Manakah yang termasuk karya-karya Ibnu Sina?
  2. Bagaimanakah pandangan Ibnu Sina tentang jiwa?
  3. Bagaimanakah pandangan Ibnu Sina tentang wujud?
  4. Bagaimanakah pandangan Ibnu Sina tentang wahyu dan Nabi?

 

  1. TUJUAN
  2. Mengetahui dan mengenal karya-karya Ibnu Sina
  3. Mengetahui pendapat Ibnu Sina tentang esensi jiwa
  4. Mengetahui pandangan Ibnu Sina tentang wujud tuhan
  5. Mengetahui pendapat Ibnu Sina tentang kedudukan wahyu dan nabi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

IBNU SINA TENTANG TUHAN, MANUSIA, DAN ALAM

 

               I. BIOGRAFI

 

               Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekatBukhara. Orang tuanya adalah pegawai tinggi pada pemerintahan Dinasti Saman[3][3].DiBukharaia dibesarkan serta belajar falsafah kedokteran dan ilmu – ilmu agama Islam. Ketika usia sepuluh tahun ia telah banyak mempelajari ilmu agama Islam dan menghafal Al-Qur’an seluruhnya. Dari mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu logika yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry , Eucliddan Al-Magest-Ptolemus. Dan sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu agama dan metafisika, terutama dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni dengan bantuan komentator-komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Arab.

               Dengan ketajaman otaknya ia banyak mempelajari filsafat dan cabang – cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah iamembaca Agradhu kitab ma waraet thabie’ah li li Aristho -nya Al-Farabi (870 – 950 M),semua persoalan mendapat jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi.Sesudah itu ia mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Belum lagi usianya melebihi enam belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal orang, bahkan banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak cukup dengan teori – teori kedokteran, tetapi juga melakukan praktek dan mengobati orang – orang sakit.Ia tidak pernah bosan atau gelisah dalam membaca buku – buku filsafat dan setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Tuhan untuk diberinya petunjuk, dan ternyata permohonannya itu tidak pernah dikecewakan. Sering – sering ia tertidur karena kepayahan membaca, maka didalam tidurnya itu dilihatnya pemecahan terhadap kesulitan – kesulitan yang dihadapinya.

               Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali kesehatannya. Sejak itu, Ibnu Sina mendapat sambutan baik sekali, dan dapat pula mengunjungi perpustakaan yang penuh dengan buku – buku yang sukar didapat, kemudian dibacanya dengan segala keasyikan. Karena sesuatu hal, perpustakaan tersebut terbakar, maka tuduhan orang ditimpakan kepadanya, bahwa ia sengaja membakarnya, agar orang lain tidak bisa lagi mengambil manfaat dari perpustakaan itu.Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang filsafat dan kedokteran, kedua duanya sama beratnya. Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun fit-Thibb- nya, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab ini selain lengkap, disusunnya secara sistematis.

               Dalam bidang materia medeica , Ibnu Sina telah banyak menemukan bahan nabati baru Zanthoxyllum budrunga – dimana tumbuh – tumbuhan banayak membantu terhadap bebebrapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak ( miningitis). Ibnu Sina pula sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya.

               Dia jugalah yang mula – mula mempraktekkan pembedahan penyakit – penyakit bengkakyang ganas, dan menjahitnya. Dan last but not list dia juga terkenal sebagai dokter ahlijiwa dengan cara – cara modern yang kini disebut psikoterapi .

               Dibidang filsafat, Ibnu Sina dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya. Ibnu Sina otodidak dan genius orisinil yang bukan hanya dunia Islam menyanjungnya ia memang merupakan satu bintang gemerlapan memancarkan cahaya sendiri, yang bukan pinjaman sehingga Roger Bacon, filosof kenamaan dari Eropa Barat pada Abad Pertengahan menyatakan dalam Regacy of Islam -nya Alfred Gullaume; Sebagian besar filsafat Aristoteles sedikitpun tak dapat memberi pengaruh di Barat, karena kitabnya tersembunyi entah dimana, dan sekiranya ada, sangat sukar sekali didapatnya dan sangat susah dipahami dan digemari orang karena peperangan – peperangan yang meraja lela di sebeleah Timur, sampai saatnya Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd dan juga pujangga Timur lain membuktikan kembali falsafah Aristoteles disertai dengan penerangan dan keterangan yang luas.

               Selain kepandaiannya sebagai flosof dan dokter, iapun penyair. Ilmu – ilmu pengetahuan seperti ilmu jiwa, kedokteran dan kimia ada yang ditulisnya dalam bentuk syair. Begitu pula didapati buku – buku yang dikarangnya untuk ilmu logika dengan syair. Kebanyakan buku – bukunya telah disalin kedalam bahasa Latin. Ketika orang – orang Eropa diabad tengah, mulai mempergunakan buku – buku itu sebagai textbook, dipelbagai universitas.Oleh karena itu nama Ibnu Sina dalam abad pertengahan di Eropah sangat berpengaruh.

               Dalam dunia Islam kitab – kitab Ibnu Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan ilmunya, akan tetapi karena bahasanya yang baik dan caranya menulis sangat terang. Selain menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia. Buku – bukunya dalam bahasa Persia, telah diterbitkan di Teheran dalam tahun 1954.

               Karya – karya Ibnu Sina yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat dan Al Isyarat. An-Najat adalah resum dari kitab As-Shifa. Al-Isyarat, dikarangkannya kemudian, untuk ilmu tasawuf. Selain dari pada itu, ia banyak menulis karangan – karangan pendek yang dinamakan Maqallah. Kebanyakan maqallah ini ditulis ketika ia memperoleh inspirasi dalam sesuatu bentuk baru dan segera dikarangnya.

               Sekalipun ia hidup dalam waktu penuh kegoncangan dan sering sibuk dengan soal negara, ia menulis sekitar dua ratus lima puluh karya. Diantaranya karya yang palingmasyhur adalah “Qanun” yang merupakan ikhtisar pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini dterjemahkan ke baasa Latin dan diajarkan berabad lamanya di Universita Barat. Karya keduanya adalah ensiklopedinya yang monumental “Kitab As-Syifa”. Karya ini merupakan titik puncak filsafat paripatetik dalam Islam.

               Diantara karangan – karangan Ibnu Sina adalah :

  1. As- Syifa’ ( The Book of Recovery or The Book of Remedy = Buku tentang Penemuan, atau Buku tentang Penyembuhan).

Buku ini dikenal didalam bahasa Latin dengan nama Sanatio, atau Sufficienta. Seluruh buku ini terdiri atas 18 jilid, naskah selengkapnya sekarang ini tersimpan diOxfordUniversityLondon.Mulai ditulis pada usia 22 tahun (1022 M) dan berakhir pada tahun wafatnya (1037 M).Isinya terbagi atas 4 bagian, yaitu :

  1.  Logika (termasuk didalamnya terorika dan syair) meliputi dasar karangan Aristoteles tentang logika dengan dimasukkan segala materi dari penulis – penulis Yunani kemudiannya.
  2. Fisika (termasuk psichologi, pertanian, dan hewan). Bagian – bagian Fisika meliputi kosmologi, meteorologi, udara, waktu, kekosongan dan gambaran).
  3. Matematika. Bagian matematika mengandung pandangan yang berpusat dari elemen – elemenEuclid, garis besar dari Almagest-nya Ptolemy, dan ikhtisar – ikhtisar tentang aritmetika dan ilmu musik.
  4.  Metafisika. Bagian falsafah, poko pikiran Ibnu sina menggabungkan pendapat Aristoteles dengan elemen – elemennya Neo Platonic dan menyusun dasar percobaan untuk menyesuaikan ide-ide Yunani dengan kepercayaan – kepercayaan. Dalam zaman pertengahan Eropa, buku ini menjadi standar pelajaran filsafat di pelbagai sekolah tinggi.
  5.  Nafat, buku ini adalah ringkasan dari buku As-Syifa’.
  6.  Qanun, buku ini adalah buku lmu kedokteran, dijadikan buku pokok pada UniversitasMontpellier(Perancis) dan Universitas Lourain (Belgia).
  7. Sadidiyya. Buku ilmu kedokteran.
  8.  Al-Musiqa. Buku tentang musik.
  9.  Al-Mantiq, diuntukkan buat Abul Hasan Sahli.
  10.  Qamus el Arabi, terdiri atas lima jilid.Danesh Namesh.Buku filsafat.
  11.  Danesh Nameh. Buku filsafat.
  12.  Uyun-ul Hikmah. Buku filsafat terdiri atas 10 jilid.
  13.  Mujiz, kabir wa Shaghir. Sebuah buku yang menerangkan tentang dasar – dasar ilmu logika secara lengkap.
  14.  Hikmah el Masyriqiyyin. Falsafah Timur (Britanica Encyclopedia vol II, hal. 915 menyebutkan kemungkinan besar buku ini telah hilang).
  15. Al-Inshaf. Buku tentang Keadilan Sejati.
  16.  Al-Hudud. Berisikan istilah – istilah dan pengertian – pengertian yang dipakai didalam ilmu filsafat.
  17.  Al-Isyarat wat Tanbiehat. Buku ini lebih banyak membicarakan dalil – dalil dan peringatan – peringatan yang mengenai prinsip Ketuhanan dan Keagamaan.
  18. An-Najah, (buku tentang kebahagiaan Jiwa)
  19. dan sebagainya

               Dari autobiografi dan karangan – kaangannya dapat diketahui data tentang sifat – sifat kepribadianhya, misalnya :

  1. 1.  Mengagumi dirinya sendiri

Kekagumannya akan dirinya ini diceritakan oleh temannya sendiri yakni Abu Ubaid al- Jurjani. Antara lain dari ucapan Ibnu Sina sendiri, ketika aku berumur 10 tahun aku telah hafal Al-Qur’an dan sebagian besar kesusateraan hinga aku dikagumi.

2. Mandiri dalam pemikiran

Sifat ini punya hubungan erat sudah nampak pada Ibnu Sina sejak masa kecil. Terbukti dengan ucapannya Bapakku dipandang penganut madzhab Syi’ah Ismailiah. Demikian juga saudaraku. Aku dengar mereka menyebtnya tentang jiwa dan akal, mereka mendiskusikan tentang jiwa dan akal menurut pandangan mereka. Aku mendengarkan, memahami diskusi ini, tetapi jiwaku tak dapat menerima pandangan mereka.

3. Menghayati agama, tetapi belum ke tingkat zuhud dan wara’. Kata Ibnu Sina, setiap argumentasi kuperhatikan muqaddimah qiyasiyah nya setepat – tepatnya, juga kuperhatikan kemungkinan kesimpulannya. Kupelihara syarat – syarat muqaddimah nya, sampai aku yakin kebenaran masalah itu. Bilamana aku bingung tidak berhasil kepada kesimpulan pada analogi itu, akupun pergi sembahyang menghadap maha Pencipta, sampai dibukakan-Nya kesulitan dan dimudahkan-Nya kesukaran.

  1. 4.  Rajin mencari ilmu, keterangan beliau “saya tenggelam dalam studi ilmu dan membaca selama satu setengah tahun. Aku tekun studi bidang logika dan filsafat, saya tidak tidur satu malam suntuk selama itu.Sedang siang hari saya tidak sibuk dengan hal – hal lainnya”

5. Pendendam. Dia meredam dendam itu dalam dirinya terhadap orang yang menyinggung perasaannya.Dia hormat bila dihormati.

  1. 6.  Cepat melahirkan karangan

               Ibnu Sina dengan cepat memusatkan pikirannya dan mendapatkan garis – garis besar dari isi pikirannya serta dia dengan mudah melahirkannya kepada orang lain.Menuangkan isi pikiran dengan memilih kalimat/ kata-kata yang tepat, amat mudah bagi dia. Semua itu berkat pembiasaan, kesungguhan dan latihan dan kedisiplinan yang dilakukannya.

               Ibnu Sina dikenal di Barat dengan nama Avicena (Spanyol aven Sina)  dan kemasyhurannya di dunia Barat sebagai dokter melampaui kemasyhuran sebagai Filosof, sehingga ia mereka beri gelar “the Prince of the Physicians”.Di dunia Islam ia dikenal dengan nama Al-Syaikh- al-Rais . Pemimpin utama (dari filosof – filosof).

               Meskipun ia di akui sebagai seorang tokoh dalam keimanan, ibadah dan keilmuan, tetapi baginya minum – minuman keras itu boleh, selama tidak untuk memuaskan hawa nafsu. Minum – minuman keras dilarang karena bias menimbulkan permusuhan dan pertikaian, sedangkan apabila ia minum tidak demikian malah menajamkan pikiran.

               Didalam al-Muniqdz min al-Dhalal, al-Ghazali bahwa Ibnu Sina pernah berjanji kepada Allah dalam salah satu wasiatnya, antara lain bahwa ia akan menghormati syari’at tidak melalaikan ibadah ruhani maupun jasmani dan tidak akan minum – minuman keras untuk memuaskan nafsu, melainkan demi kesehatan dan obta.

               Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas -aktifitas kerja keras. Waktunya dihabiskan untuk urusan negara dan menulis, sehingga ia mempunyai sakit maag yang tidak dapat terobati. Di usia 58 tahun (428 H / 1037 M) Ibnu Sina meninggal dan dikuburkan di Hamazan.

 

               .II.  PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU SINA

 

  1.  FILSAFAT JIWA

 

               Ibnu Sina memberikan perhatiannya yang khusus terhadap pembahasan kejiwaan, sebagaimana yang dapat kita lihat dari buku – buku yang khusus untuk soal – soal kejiwaan ataupun buku – buku yang berisi campuran berbagai persoalan filsafat.Memang tidak sukar untuk mencari unsur – unsur pikiran yang membentuk teorinya tentang kejiwaan, seperti pikiran – piiran Aristoteles, Galius atau Plotinus, terutama pikiran- pikiran Aristoteles yang banyak dijadikan sumber pikiran-pikirannya. Namun hal ini tidak berarti bahwa Ibnu Sina tidak mempunyai kepribadian sendiri atau pikiran – pikiran yang sebelumnya, baik dalam segi pembahasan fisika maupun segi pembahasan metafisika.

               Dalam segi fisika, ia banyak memakai metode eksperimen dan banyak terpengaruh oleh pembahasan lapangan kedokteran. Dalam segi metafisika terdapat kedalaman dan pembaharuan yang menyebabkan dia mendekati pendapat – pendapat filosof modern.

               Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia pikir Arab sejak abad ke sepuluh Masehi sampai akhir abad ke 19 M, terutama pada Gundisallinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon dan Dun Scot.

               Pemikiran terpenting yang dihasilkan Ibnu Sina ialah falsafatnya tentang jiwa.Sebagaimana Al-Farabi,iajuga menganut faham pancaran. Dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua dan langit pertama, demikian seterusnya sehingga tercapai akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal ke sepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada dibawah bulan. Akal pertama adalah malaekat tertinggi dan akal kesepuluh adalah Jibril.

               Pemikiran ini berbeda dengan pemikiran kaum sufi dan kaum mu’tazilah. Bagi kaum sufi kemurnian tauhid mengandung arti bahwa hanya Tuhan yang mempunyai wujud. Kalau ada yang lain yang mempunyai wujud hakiki disamping Tuhan, itu mngandung arti bahwa ada banyak wujud, dan dengan demikian merusak tauhid. Oleh karena itu mereka berpendapat : Tiada yang berwujud selain dari Allah swt. Semua yang lainnya pada hakikatnya tidak ada. Wujud yang lain itu adalah wujud bayangan. Kalau dibandingkan dengan pohon dan bayangannya, yang sebenarnya mempunyai wujud adalah pohonnya, sedang bayangannya hanyalah gambar yang seakan -akan tidak ada. Pendapat inilah kemudian yang membawa kepada paham wahdat al-wujud (kesatuan wujud), dalam arti wujud bayangan bergantung pada wujud yang punya bayangan.Karena itu ia pada hakekatnya tidak ada; bayangan tidak ada. Wujud bayangan bersatu dengan wujud yang punya bayangan.Kalau kaum Mu’tazilah dalam usaha memurnikan tauhid pergi ke peniadaan sifat – sifatTuhan dan kaum sufi ke peniadaan wujud selain dari wujud Allah swt, maka kaum filosof Islam yang dipelopori al-Farabi, pergi ke faham emanasi atau al-faidh . Lebih dari mu’tazilah dan kaum sufi, al-Farabi berusaha meniadakan adanya arti banyak dalam diri Tuhan. Kalau Tuhan berhubungan langsung dengan alam yang tersusun dari banyak unsur ini, maka dalam pemikiran Tuhan terdapat pemikiran yang banyak. Pemikiran yang banyak membuat faham tauhid tidak murni lagi.

               Menurut al-Farabi, Allah menciptakan alam ini melalui emanasi, dalam arti bahwa wujud Tuhan melimpahkan wujud alam semesta. Emanasi ini terjadi melalui tafakkur (berfikir) Tuhan tentang dzat-Nya yang merupakan prinsip dari peraturan dan kebaikan dalam alam. Dengan kata lain, berpikirnya Allah swt tentang dzat-Nya adalah sebab dari adanya alam ini. Dalam arti bahwa ialah yang memberi wujud kekal dari segala yang ada. Berfikirnya Allah tentang dzatnya sebagaimana kata Sayyed Zayid, adalah ilmu Tuhan tentang diri-Nya, dan ilmu itu adalah daya ( al-Qudrah) yang menciptakan segalanya, agar sesuatu tercipta, cukup Tuhan mengetahuiNya.

               Ibnu Sina berpendapat bahwa akal pertama mempunyai dua sifat : sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah, dan sifat mungkin wujudnya jika ditinjau dari hakekat dirinya atau necessary by virtual of the necessary being and possible in essence . Dengan demikian ia mempunyai tiga obyek pemikiran : Tuhan, dirinya sebagai wajib wujudnya dan dirinya sebagai mungkin wujudnya. Dari pemkiran tentang Tuhan timbul akal – akal dari pemikiran tentang dirinya sebagai wajib wujudnya timbul jiwa – jiwa dari pemikiran tentang dirinya sebagai mungkin wujudnya timbul di langit. Jiwa manusia sebagaimana jiwa – jiwa lain dan segala apa yang terdapat di bawah Bulan, memancar dari akal ke sepuluh.

               Segi – segi kejiwaan pada Ibnu Sina pada garis besarnya dapat dibagi menjadi dua segi yaitu :

  1.  Segi fisika yang membicarakan tentang macam – macamnya jiwa (jiwa tumbuhkan, jiwa hewan dan jiwa manusia). Pembahasan kebaikan – kebaikan, jiwa manusia, indera dan lain – lain dan pembahasan lain yang biasa termasuk dalam pengertian ilmu jiwa yang sebenarnya.
  2. Segi metafisika, yang membicarakan tentang wujud dan hakikat jiwa, pertalian jiwa dengan badan dan keabadian jiwa.

               Ibnu Sina membagi jiwa dalam tiga bahagian :

  1. Jiwa tumbuh – tumbuhan ( ) dengan daya – daya : Makan ( nutrition),  Tumbuh ( growth), Berkembang biak ( reproduction)
  2.  Jiwa binatang ( ) dengan daya – daya : Gerak ( locomotion), Menangkap (perception) dengan dua bagian :
  3. Menagkap dari luar dengan panca indera
  4.  Menangkap dari dalam dengan indera – indera dalam.

–  Indera bersama yang menerima segala apa yang ditangkap oleh panca indera

–  Representasi yang menyimpan segala apa yang diterima oleh indera bersama

–  Imaginasi yang dapat menyusun apa yang disimpan dalam representasi

– Estimasi yang dapat menangkap hal – hal abstraks yang terlepas dari materi    umpamanya keharusan lari bagi kambing dari anjing serigala.

–  Rekoleksi yang menyimpan hal – hal abstrak yang diterima oleh estimasi.

 

  1.  Jiwa manusia ( ) dengan daya – daya :

1.Praktis yang hubungannya dengan badanTeoritis yang hubungannya adalah dengan hal – hal abstrak.Daya ini mempunyai tingkatan :

a). Akal materiil yang semata – mata mempunyai potensi untuk berfikir dan belum dilatih walaupun sedikitpun.

b). Intelectual in habits, yang telah mulai dilatih untuk berfikir tentang hal – hal abstrak.

c).  Akal actuil, yang telah dapat berfikir tentang hal – hal abstrak.

d). Akal mustafad yaitu akal yang telah sanggup berfikir tentang hal – hal abstrak dengan tak perlu pada daya upaya.

               Sifat seseorang bergantung pada jiwa mana dari ketiga macam jiwa tumbuh – tumbuhan, binatang dan manusia yang berpengaruh pada dirinya, maka orang itu dapat menyerupai binatang, tetapi jika jiwa manuisa yang mempunyai pengaruh atas dirinya, maka orang itu dekat menyerupai malaekat dan dekat dengan kesempurnaan.

               Menurut Ibnu Sina jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyaiwujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yangsesuai dan dapat menerima jiwa, lahir didunia ini. Sungguh pun jiwa manusia tidak mempunyai fungsi – fungsi fisik, dan dengan demikian tak berhajat pada badan untuk menjalankan tugasnya sebagai daya yang berfikir, jiwa masih berhajat pada badan karena pada permulaan wujudnya badanlah yang menolong jiwa manusia untuk dapat berfikir.

               Sedangkan menurut al-Ghazali di dalam buku – buku filsafatnya dia menyatakan bahwa manusia mempunyai identitas esensial yang tetap tidak berubah – ubah yaitu al-Nafsatau jiwanya. Adapun yang dimaksud tentang al-Nafs adalah “substansi yang berdiri sendiri yang tidak bertempat”. Serta merupakan tempat bersemayam pengetahuan – pengetahuan intelektual ( al-ma’qulat) yang berasal dari alam al-malakut atau al-amr . Hal ini menunjukkan bahwa esensi manusia bukan fisiknya dan bukan fungsi fisiknya. Sebab fisik adalah sesuatu yang mempunyai tempat, sedangkan fungsi fisik adalah sesuatu yang tidak berdiri sendiri, karena keberadaannya tergantung kepada fisik. Sementara dalam penjelasannya yang lain, al-Ghazali menegaskan bahwa manusia terdiri atas dua substansi pokok, yakni substansi yang berdimensi dan substansi yang tidak berdimensi, namun mempunyai kemampuan merasa dan bergerak dengan kemauan.Substansi yang pertama dinamakan badan ( al-jism) dan substansi yang kedua disebut jiwa ( al-nafs).

               Jiwa ( al-Nafs) memiliki daya – daya sebagai derivatnya dan atas dasar tingkatan daya -daya tersebut, pada diri manusia terdapat tiga jiwa ( al-nufus al-tsalatsah) :

               Pertamajiwa tumbuhan ( al-nafs al-nabatiyah) merupakan tingkatan jiwa yang paling rendah dan memiliki tiga daya

 1) daya nutrisi ( al-ghadiya),

 2) daya tumbuh ( almunmiyah) dan

 3) daya reproduksi ( al-muwallidah), dengan daya ini manusia dapat berpotensi makan, tumbuh dan berkembang biak sebagaimana tumbuh – tumbuhan.

               Kedua, jiwa hewani/sensitive ( al-nafs al-hayawaniyah) yang memiliki dua daya

 1).  Daya penggerak ( al-mukharikah).

 2). Daya persepsi ( al-mudrikah). Pada penggerakn ( almukharikah) terdapat dua daya lagi yaitu:

               a.  Daya pendorong ( al-baitsah).

               b. Daya berbuat ( al-failah).

                Hubungan antara daya pertama dengan daya kedua sebagaimanahubungan daya potensi dan aktus, tetapi keduanya bersifat potensial sebelum mencapaiaktualisasinya. Yang pertama merupakan kemauan dan yang kedua merupakan kemampuan. Karena itu al-Ghazali menyebut yang pertama iradah dan yang kedua qudrah .

               Ketiga, jiwa rasional ( al-nafs al-natiqah). Mempunyai dua daya !) daya praktis ( al-‘amilah) dan daya teoritis ( al-alimah). Yang pertama berfungsi menggerakkan tubuh melalui daya-daya jiwa sensitive / hewani. Sesuai dengan tuntutan pengetahuan yang dicapai oleh akal teorities. Yang dimaksud akal teoritis adalah al-‘alimah , sebab jiwa rasional disebut juga al-‘aql . Al-‘alimah disebut juga akal praktis. Akal praktis merupakan saluran yang menyampaikan gagasan akal teoritis kepada daya penggerak.

               Al-Ghazali didalam Tahafut al-Falasifah menyangkal 20 buah kesalahan para filosof muslim beserta pendahulu-pendahulu mereka yang berpaham teistik di Yunani. Para filosof yang disangkal oleh al-Ghazali ini terbagi kedalam tiga kelompok:

  1.  Filosof – filosof materialistik ( dahriyyun)

Mereka adalah ateis-ateis yang menyangkal adanya Allah dan merumuskan kekekalan alam dan terciptanya alam dengan sendirinya.

  1.  Filosof-filosof naturalis atau desitik ( thabi’iyyun).

Mereka melaksanakan berbagai riset di dalam alam semesta dan segala sesuatu yang menakjubkan di dalam dunia binatang dan tumbuh-tumbuhan. Melalui riset-riset itu mereka cukup banyak menyaksikan keajaiban-keajaiban di dalam ciptaan Allah dan mereka menemukan kebijaksanaan-Nya sehingga akhirnya mereka mau tak mau mengakui adanya satu pencipta yang Maha Bijaksana. Walaupun demikian mereka tetap menyangkal adanya hari pengadilan, kebangkitan kembali dan kehidupan akhirat. Mereka tidak mengenal pahala dan dosa, karenanya mereka memuaskan nafsu-nafsu mereka seperti binatang.

  1.  Filosof – filosof teis ( ilahiyyun).

               Mereka adalah filosof-filosof Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles. Aristoteles telah mengkritik filosof-fiosof teis sebelumnya, termasuk Socrates dan Plato. Walaupun begitu, menurut al-Ghazali, Aristoteles masih mempertahankan sisa-sisa kekafiran dan kebid’ahan mereka yang tak berhasil dilepaskannya. Filsafat Aristoteles seperti yang disebarluaskan oleh penerjemah-penerjemah dan komentator-komentator karyanya (pengikutnya) khususnya al-Farabi dan Ibnu Sinaterbagi ke dalam 3 kelompok :

               a.  Filsafat-filsafatnya yang harus dipandang kufur.

               b.  Filsafat-filsafatnya yang menurut Islam adalah bid’ah.

               c.  Filsafat-filsafatnya yang sama sekali tak perlu disangkal.

               Tiga masalah yang menyebabkan kufur tersebut adalah :

Pertama, bahwa Allah hanya mengetahui hal-hal yang besar-besar dan tidak mengetahui hal-hal yang kecil – kecil.

Kedua, bahwa alam ini azali atau kekal, tanpa permulaan.

Ketiga, bahwa di akhirat kelak yang dihimpun adalah ruh manusia bukan jasadnya

               Ada empat dalil yang dikemukakan oleh Ibnu Sina untuk membuktikan adanya jiwa yaitu :

  1.  Dalil alam – kejiwaan (natural psikologi).
  2.  Dalil Aku dan kesatuan gejala – gejala kejiwaan.
  3. Dalil kelangsungan (kontinuitas).
  4. Dalil orang terbang atau orang tergantung di udara

               Dalil-dalil tersebut apabila diuraikan satu persatu adalah sebagai berikut :

 

  1. 1.      Dalil Alam Kejiwaan

 

               Pada diri kita ada peristiwa yang tidak mungkin di tafsirkan kecuali sesudah mengakui adanya jiwa. Peristiwa – peristiwa tersebut adalah gerak dan pengenalan ( idrak, pengetahuan).

 

 

               Gerak ada dua macam yaitu :

  1. Gerak paksaan ( harakah qahriah) yang timbul sebagai akibat dorongan dari luar dan yang menimpa sesuatu benda kemudian menggerakkannya.
  2. Gerak bukan paksaan, dan gerak ini terbagi menjadi dua yaitu :

a. Gerak sesuai dengan ketentuan hukum alam, seperti jatuhnya batu dari atas ke bawah.

b. Gerak yang terjadi dengan melawan hukum alam, seperti manusia yang berjalan di bumi, sdang berat badannya seharusnya menyebabkan ia diam, atau seperti burung yang terbang menjulang di udara, yang seharusnya jatuh (tetap) di sarangnya di atas bumi. Gerak yang berlawanan dengan ketentuan alam tersebut menghendaki adanya penggerak khusus yang melebihi unsur – unsur benda yang bergerak. Penggerak tersebut ialah jiwa.

               Pengenalan (pengetahuan) tidak dimiliki oleh semua mahluk, tetapi hanya di miliki oleh sebagiannya. Yang memiliki pengenalan ini menunjukkan adanya kekuatan – kekuatan lain yang tidak terdapat pada lainnya. Begitulah isi dalil natural-psikologi dari Ibnu Sina yang didasarkan atas buku De Anima (Jiwa) dan Physics , kedua – duanya dari Aristoteles.

               Namun dalil Ibnu Sina tersebut banyak berisi kelemahan – kelemahan antara lain bahwa natural ( physic) pada dalil tersebut dihalalkan. Dalil tersebut baru mempunyai nilai kalau sekurangnya benda – benda tersebut hanya terdiri dari unsur-unsur yang satu maca, sedang benda – benda tersebut sebenarnya berbeda susunannya (unsur – unsurnya). Oleh karena itu maka tidak ada keberatannya untuk mengatakan bahwa benda – benda yang bergerakmelawan ketentuan alam berjalan sesuai dengan tabiatnya yang khas dan berisi unsur – unsur yang memungkinkan ia bergerak. Sekarang ini banyak alat – alat (mesin) yang bergerak dengan gerak yang berlawanan dengan hukum alam, namun seorang pun tidak mengira bahwa alat-alat (mesin – mesin) terseut berisi jiwa atau kekuatan lain yang tidak terlihat dan yang menggerakkannya. Ulama – ulama biologi sendiri sekarang menafsirkan fenomena kehidupan dengan tafsiran mekanis dan dinamis, tanpa mengikut sertakan kekuatan psikologi (kejiwaan).

               Nampaknya Ibnu Sina sendiri menyadari kelemahan dalil tersebut. Oleh karena itu dalam kitab – kitab yang dikarang pada masa kematangan ilmunya, seperti al-syifa dan al-Isyarat , dalil tersebut disebutkan sambil lalu saja, dan ia lebih mengutamakan dalildalil yang didasarkan atas segi – segi pikiran dan jiwa, yang merupakan genitalianya Ibnu sina.

 

 

 

  1. 2.       Dalil Aku dan Kesatuan Gejala Kejiwaan.

 

               Menurut Ibnu Sina apabila seorang sedang membicarakan tentang dirinya atau mengajak bicara kepada orang lain, maka yang dimaksudkan ialah jiwanya, bukan badannya. Jadi ketika kita mengatakan saya keluar atau saya tidur , maka bukan gerak kaki, atau pemejaman mata yang dimaksudkan, tetapi hakikat kita dan seluruh pribadi kita.

 

  1. 3.      Dalil Kelangsungan (kontinuitas).

 

               Dalil ini mengatakan bahwa masa kita yang sekarang berisi juga masa lampau dan masa depan. Kehidupan rohani kita pada pagi ini ada hubungannya dengan kehidupan kitayang kemarin, dan hubungan ini tidak terputus oleh tidur kita, bahkan juga ada hubngannya dengan kehidupan kita yang terjadi beberapa tahun yang telah lewat. Kalau kita ini bergerak dalam mengalami perubahan, maka gerakan – gerakan dan perubahan tersebut bertalian satu sama lain dan berangkai – rangkai pula. Pertalian dan perangkaian ini bisa terjadi karena peristiwa – peristiwa jiwa merupakan limphan dari sumber yang satu dan beredar sekitar titik tarik yang tetap.

               Ibnu Sina dengan dalil kelangsungan tersebut telah membuka ciri kehidupan pikiran yang paling khas dan mencerminkan penyelidikan dan pembahasannya yang mendalam, bahkan telah mendahului masanya beberapa abad, karena pendapatnya tersebut dipegangi oleh ilmu jiwa modern dan telah mendekati tokoh – tokoh pikir masa sekarang.

 

  1. 4.       Dalil Orang Terbang atau Tergantung di Udara.

 

               Dalil ini adalah yang terindah dari Ibnu Sina dan yang paling jelas menunjukkan daya kreasinya. Meskipun dalil tersebut didasarkan atas perkiraan dan khayalan, namun tidak mengurangi kemampuannya untuk memberikan keyakinan. Dalil tersebut mengatakan sebagai berikut : Andaikan ada seseorang yang mempunyai kekuatan yang penuh, baik akal maupun jasmani, kemudian ia menutup matanya sehingga tak dapat melihat sama sekali apa yang ada di sekelilingnya kemudian ia diletakkan di udara atau dalam kekosongan, sehingga ia tidak merasakan sesuatu persentuhan atau bentrokan atau perlawanan, dan anggota – anggota badannya diatur sedemikian rupa sehingga tidak sampai saling bersentuhan atau bertemu. Meskipun ini semua terjadi namun orang tersebut tidak akan ragu – ragu bahwa dirinya itu ada, meskipun ia sukar dapat menetapkan wujud salah satu bagian badannya. Bahkan ia boleh jadi tidak mempunyai pikiran sama sekali tentang badan, sedang wujud yang digambarkannya adalah wujud yang tidak mempunyai tempat, atau panjang, lebar dan dalam (tiga dimensi). Kalau pada saat tersebut ia mengkhayalkan (memperkirakan) ada tangan dan kakinya. Dengan demikian maka penetapan tentang wujud dirinya, tidak timbul dari indera atau melalui badan seluruhnya, melainkan dari sumber lain yang berbeda sama sekali dengan badan yaitu jiwa.

               Dalil Ibnu Sina tersebut seperti halnya dengan dalil Descartes, didasarkan atas suatu hipotesa, bahwa pengenalan yang berbeda – beda mengharuskan adanya perkara -perkara yang berbeda – beda pula. Seseorang dapat melepaskan dirinya dari segalasesuatu, kecuali dari jiwanya yang menjadi dasar kepribadian dan dzatnya sendiri. Kalau kebenaran sesuatu dalam alam ini kita ketahui dengan adanya perantara (tidak langsung), maka satu kebenaran saja yang kita ketahui dengan langsung, yaitu jiwa dan kita tidak bisa meragukan tentang wujudnya, meskipun sebentar saja, karena pekerjaan – pekerjaan jiwa selamanya menyaksikan adanya jiwa tersebut.

 

  1. FILSAFAT WUJUD.

 

               Bagi Ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan diatas segala sifat lain, walaupun essensi sendiri. Essensi, dalam faham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap essensi yang dalam akal mempunyai kenyataan diluar akal. Tanpa wujud, essensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari essensi. Tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa Ibnu Sina telah terlebih dahulu menimbulkan falsafat wujudiah atau existentialisasi dari filosof – filosof lain.

               Kalau dikombinasikan, essensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut :

  1. Essensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibnu Sina mumtani’ ( ) yaitu sesuatu yang mustahil berwujud ( – impossible being).
  2. Essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini disebut mumkin ( ) yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contohnya adalah alam ini yang pada mulanya tidak ada kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
  3. Essensi yang tak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Disini essensi tidak bisa dipisahkan dari wujud. Essensi dan wujud adalah sama dan satu. Di sini essensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud, sebagaimana halnya dengan essensi dalam kategori kedua, tetapi essensi mesti dan wajib mempunyai wujud selama – lamanya. Yang serupa ini disebut mestiberwujud ( ) yaitu Tuhan. Wajib al wujud inilah yang mewujudkan mumkin al wujud.

               Dalam pembagian wujud kepada wajib dan mumkin , tampaknya Ibnu Sina terpengaruh oleh pembagian wujud para mutakallimun kepada : baharu (al-hadits) dan Qadim (al-Qadim). Karena dalil mereka tentang wujud Allah didasarkan pada pembedaan – pembedaan “baharu” dan “qadim” sehingga mengharuskan orang berkata, setiap orangyang ada selain Allah adalah baharu, yakni didahului oleh zaman dimana Allah tidakberbuat apa – apa. Pendirian ini mengakibatkan lumpuhnya kemurahan Allah pada zaman yang mendahului alam mahluk ini, sehingga Allah tidak pemurah pada satu waktu dan Maha Pemurah pada waktu lain. Dengan kata lain perbuatan-Nya tidak Qadim dan tidak mesti wajib. Untuk menghindari keadaan Tuhan yang demikian itu, Ibnu Sina menyatakan sejak mula “bahwa sebab kebutuhan kepada al-wajib (Tuhan) adalah mungkin, bukan baharu”. Pernyataan ini akan membawa kepada aktifnya iradah Allah sejak Qadim, sebelum Zaman.

               Dari pendapat tersebut terdapat perbedaan antara pemikiran para mutakallimin dengan pemikiran Ibnu Sina. Dimana para mutakallimin anatar qadim dan baharu lebih sesuai dengan ajaran agama tentang Tuhan yang menjadikan alam menurut kehendak-Nya, sedangkan dalil Ibnu Sina dalam dirinya terkandung pemikiran Yunani bahwa Tuhan yang tunduk dibawah “kemestian”, sehingga perbuatan-Nya telah ada sekaligus sejak qadim. “Perbuatan Ilahi” dalam pemikiran Ibnu Sina dapat disimpulkan dalam 4 catatan sebagai berikut :

               Pertama, perbuatan yang tidak kontinu (ghairi mutajaddid) yaitu perbuatan yang telah selesai sebelum zaman dan tidak ada lagi yang baharu. Dalam kitab An-Najah (hal. 372) Ibnu Sina berkata : “yang wajib wujud (Tuhan) itu adalah wajib (mesti) dari segala segi, sehingga tidak terlambat wujud lain (wujud muntazhar) – dari wuwud-Nya, malah semua yang mungkin menjadi wajib dengan-Nya. Tidak ada bagi-Nya kehendak yang baru, tidak ada tabi’at yang baru, tidak ada ilmu yang baru dan tidak ada suatu sifat dzat-Nya yang baru”. Demikianlah perbuatan Allah telah selesai dan sempurna sejak qadim, tidak ada sesuatu yang baru dalam pemikiran Ibnu Sina, seolah – olah alam ini tidak perlu lagi kepada Allah sesudah diciptakan.

               Kedua, perbuatan Ilahi itu tidak ada tujuan apapun. Seakan – akan telah hilang dari perbuatan sifat akal yang dipandang oleh Ibnu Sina sebagai hakekat Tuhan, dan hanya sebagai perbuatan mekanis karena tidak ada tujuan sama sekali.

               Ketiga, manakala perbuatan Allah telah selesai dan tidak mengandung sesuatu maksud, keluar dari-Nya berdasarkan “hukum kemestian”, seperti pekerjaan mekanis, bukan dari sesuatu pilihan dan kehendak bebas.

               Yang dimaksudkan dalam catatan ketiga ini yaitu Ibnu Sina menisbatkan sifat yangpaling rendah kepada Allah karena sejak semula ia menggambarkan “kemestian” pada Allah dari segala sudut. Akibatnya upaya menetapkan iradah Allah sesudah itu menjadi sia – sia, akrena iradah itu tidak lagi bebas sedikitpun dan perbuatan yang keluar dari kehendak itu adalah kemestian dalam arti yang sebenarnya. Jadi tidak ada kebebasan dan kehendak selagi kemestian telah melilit Tuhan sampai pada perbuatan-Nya, lebih – lebih lagi pada dzat-Nya.

               Keempat, perbuatan itu hanyalah “memberi wujud” dalam bentuk tertentu. Untuk memberi wujud ini Ibnu Sina menyebutnya dengan beberapa nama, seperti : shudur (keluar), faidh (melimpah), luzum (mesti), wujub anhu (wajib darinya). Nama – nama ini dipakai oleh Ibnu Sina untuk membebaskan diri dari pikiran “Penciptaan Agamawi”, karena ia berada di persimpangan jalan anatara mempergunakan konsep Tuhan sebagai-sebab pembuat (Illah fa’ilah) seperti ajaran agama dengan konsep Tuhan sebagai sebab tujuan (Illah ghaiyyah) yang berperan sebagai pemberi kepada materi sehingga bergerak ke arahnya secara gradual untuk memperoleh kesempurnaan.

               Dalam empat catatan tersebut para penulis sejarah dan pengkritik Ibnu Sina selalu memahami bahwa Ibnu Sina menggunakan konsep pertama yaitu konsep Tuhan sebagai “sebab pembuat”. Tidak terpikir oleh mereka kemunginan Ibnu Sina menggunakan konsep kedua, yang menyatakan bahwa Tuhan tidak mencipta, tapi hanya sebagai tujuan semata. Semua mahluk merindui Tuhan dan bergerak ke arahNya seperti yang terdapat dalam konsepsi Aristoteles tentang keindahan seni dalan hubungan alam dengan Tuhan.

 

  1. FALSAFAT WAHYU DAN NABI

 

               Pentingnya gejala kenabian dan wahyu ilahi merupakan sesuatu yang oleh Ibnu Sina telah diusahakan untuk dibangun dalam empat tingkatan : intelektual, imajinatif, keajaiban, dan sosio politis. Totalitas keempat tingkatan ini memberi kita petunjuk yang jelas tentang motivasi, watak dan arah pemikiran keagamaan. Akal manusia terdiri empat macam yaitu akal materil, akal intelektual, akal aktuil, dan akal mustafad. Dari keempat akal tersebut tingkatan akal yang terendah adalah akal materiil. Ada kalanya Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal materiil yang besar lagi kuat, yang Ibnu Sina diberi nama al hads yaitu intuisi. Daya yang ada pada akal materiil semua ini begitu besarnya, sehingga tanpa melalui latihan dengan mudah dapatberhubungan dengan akal aktif dan dengan mudah dapat menerima cahaya atau wahyudari Tuhan. Akal serupa ini mempunyai daya suci. Inilah bentuk akal tertinggi yang dapat diperoleh manusia dan terdapat hanya pada nabi – nabi.

               Jadi wahyu dalam pengertian teknis inilah yang mendorong manusia untuk beramal dan menjadi orang baik, tidak hanya murni sebagai wawasan intelektual dan ilham belaka. Maka tak ada agama yang hanya berdasarkan akal murni. Namun demikian, wahyu teknis ini, dalam rangka mencapai kualitas potensi yang diperlukan, juga tak pelak lagi menderita karena dalam kenyataannya wahyu tersebut tidak memberikan kebenaran yang sebenarnya, tetapi kebenaran dalam selubung simbol – simbol. Namun sejauh mana wahyu itu mendorong ?. Kecuali kalau nabi dapat menyatakan wawasan moralnya ke dalam tujuan – tujuan dan prinsip – prinsip moral yang memadai, dan sebenarnya ke dalam suatu struktur sosial politik, baik wawasan maupun kekuatan wahyu imajinatifnya tak akan banyak berfaedah. Maka dari itu, nabi perlu menjadi seorang pembuat hukum dan seorang negarawan tertinggi memang hanya nabilah pembuat hukum dan negarawan yang sebenarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

BABIII

PENUTUP

RANGKUMAN

 

             Ibnu Sina memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahamannya mempengaruhi pandangan filsafatnya. Ketajaman pemikirannya dan kedalaman keyakinan keagamaannya secara simultan mewarnai alam pikirannya. Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis dalam berfilsafat, sementara al-Ghazali menjulukinya sebagai Filsuf yang terlalu banyak berfikir.

            Menurut Ibnu Sina bahwa alam ini diciptakan dengan jalan emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan adalah wujud pertama yang immateri dan dariNyalah memancar segala yang ada.

            Tuhan adalah wajibul wujud (jika tidak ada menimbulkan mustahil), beda dengan mumkinul wujud (jika tidak ada atau ada menimbulkan tidak mujstahil).

            Pemikiran Ibnu Sina tentang kenabian menjelaskan bahwa nabilah manusia yang paling unggul, lebih unggul dari filosof karena nabi memiliki akal aktual yang sempurna tanpa latihan atau studi keras, sedangkan filosof mendapatkannya dengan usaha dan susah payah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTA PUSTAKA

 

Al-Ahwan, Ahmad Fuad, Filsafat Islam,Jakarta, Pustaka Firdaus, 1984

Al-Ghazali Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Ahmad, al-Munqidz min al- Dlalah wa al-Muwassil ila dzi al-Izzah wa al-Jalal ,Lebanon,Beirut, 1967

____________, Madarij al-Salikin , Kairo, tsaqofah Islamiyah, 1964

____________, Ma’rij al-Quds fi Madaarij Ma’rofah al-Nafs , Kairo, Maktabah al-Jund, 1968

____________, Tahafut al-Falasifah , Kairo, Mesir, Maktaba’ah al-Qahirah, 1903

Busyairi Madjidi, Konsep Kependidikan Para filosof Muslim , Yogyakarta, Al-Amin Press, 1997

Daudy Ahmad, Dr. MA., Kuliah Filsafat Islam , Jakarta, Bulan Bintang, 1986

_____________, Segi – Segi Falsafi dalam Islam , Jakarta, Bulan Bintang, 1984

Hanafi, Ahmad, MA, Pengantar Filsafat Islam , Jakarta, Bulan Bintang, 1986

Imam Munawir, Mengenal Pribadi 30 Pendekar dan Pemikir Islam dari masa ke masa , Surabaya, PT. Bina Ilmu, 1985

Nasution, harun, Prof., Dr., Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya , Jakarta, Penerbit Universitas Indonesia, 1996

_____________, Falsafat dan Msitisme dalam Islam , Jakarta, Bulan Bintang, 1992

Oemar Amin Husein, Dr., Filsafat Islam , Jakarta, Bulan Bintang, 1975

Poerwantana, dkk., Seluk Beluk Filsafat Islam , Bandung, PT remaja Rosdakarya, 1991

Syarif, MM., MA., Para Filosof Muslim, Bandung, Mizan, 1994

Thawil Akhyar Dasoeki, Sebuah Kompilasi Filsafat Islam , Semarang, Dina Utama Semarang, 1993

Zaenal Abidin Ahmad, Ibnu Sina (Avecenna) sarjana dan Filosof Dunia , Jakarta, Bulan Bintang, 1949

 

Advertisements

perkawinan

BAB II

PEMBAHASAN

LARANGAN MEMBUJANG BAGI YANG MAMPU KAWIN

  1. A.    DEFINISI/PENGERTIAN PERKAWINAN

Ta’rif perkawinan yaitu “aqad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban serta bertolong-tolongan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang antara keduanya bukan muhrim”.

Nikah adalah salah satu asas pokok hidup yang terutama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna, bukan saja perkawinan itu satu jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi perkawinan itu juga dapat dipandang sebagai satu jalan menuju pintu perkenalan antara satu kaum dengan kaum yang lainnya. Serta perkenalan itu akan menjadi jalan buat menyampaikan kepada sikap saling tolong-menolong antara yang satu dengan yang lainnya.

Sebenarnya pertalian nikah adalah pertalian yang seteguh-teguhnya dalam hidup dan kehidupan manusia, bukan saja antara suami istri dan keturunannya, bahkan antara kedua belah pihak keluarga. Betapa tidak ??? dari sebab baik pergaulan antara si istri dengan suaminya, kasih mengasihi, akan menyebabkan berpindahlah kebaikan itu kepada semua keluarga dari kedua belah pihaknya, sehingga mereka menjadi satu dalam segala urusan bertolong-tolongan sesamanya dalam menjalankan kebaikan dan menjaga segala kejahatan. Selain daripada itu, dengan perkawinan seseorang akan terpelihara daripada kebinasaan hawa nafsunya.

 

  1. B.     LARANGAN MEMBUJANG BAGI YANG MAMPU KAWIN

Masa muda adalah masa yang sangat rentan dan mudah untuk terjerumus dalam dunia pergaulan seks bebas. Dan pada masa ini juga masa timbulnya birahi dan syahwat terhadap wanita yang sangat menggelora. Oleh karena itu sangat dianjurkannya bagi para pemuda dan pemudi yang sudah mampu secara lahir dan bathin untuk melaksanakan pernikahan/perkawinan.

Pada dasarnya, hukum pernikahan itu adalah jaiz (boleh), berhukum sunnah, ini bagi orang yang berkehendak serta sudah mencukupi untuk belanjanya (nafkah dan lain-lainnya). Hukumnya berubah menjadi wajib, ini atas orang yang sudah cukup mempunyai belanja (nafkah) serta dia takut tergoda dan terjerumus kepada kejahatan (zina). Berhukum makruh, ini terhadap orang-orang yang tidak mampu member nafkah dan dikhawatirkan dia tidak bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. Dan menjadi haram hukumnya apabila orang itu menikah dengan niat akan menyakiti perempuan yang akan dia nikahi itu.

Sabda rausulullah SAW.

يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فانه اغض للبصر واحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فانه له وجاء (متفق عليه)

 

Artinya : “wahai para pemuda, barang siapa yang mampu di antara kamu serta berkeinginan untuk kawin, hendaklah dia kawin. Karena sesungguhnya perkawinan itu akan memejamkan matanya terhadap orang yang tidak halal  dilihatnya, dan akan memeliharanya dari godaan syahwat. Dan barang siiapa yang tidak mampu kawin hendaklah dia puasa, karena dengan puasa hawa nafsunya terhadap perempuan akan berkurang”.

Hadits ini ditujukan kepada para pemuda, karena mereka sedang dalam masa menggeloranya birahi dan syahwat terhadap wanita. Yang dimaksud dengan kata “al-ba’ata” dalam hadits ini adalah jimak atau bersetubuh.

Oleh karena itu, faedah yang terbesar dalam perkawinan ialah untuk menjaga dan memelihara perempuan yang bersifat lemah itu dari kebinasaan. Sebab seorang perempuan apabila ia sudah kawin, maka nafkahnya (belanjanya) jadi wajib atas tanggungan suaminya. Perkawinan juga berguna untuk memelihara kerukunan anak cucu (keturunan), sebab kalau tidak dengan nikah tentulah  anak tidak berketentuan siapa yang akan mengurusnya dan siapa yang bertanggung jawab atasnya. Dan dengan pernikahan juga memelihara keturunan. Dalam arti nyata siapa orang tuanya.

Nikah juga dipandang sebagai kemaslahatan umum karena kalau tidak dengan pernikahan tentu manusia akan menuruti sifat kebinatangan dan sama dengan binatang, dan dengan sifat itu akan timbul perselisihan bencana dan permusuhan antara sesamanya yang mungkin juga sampai menimbulkan sikap saling bermusuhan dan membunuh yang maha dahsyat.

Demikianlah maksud perkawinan yang sejati dalam hukum islam. Dengan singkat untuk kemaslahatan dalam ruumah tangga dan keturunan, juga untuk kemaslahatan di dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam hadits lain rasulullah sangat menganjurkan kepada semua umat islam untuk menikah dengan wanita yang ia sukai dan ia senangi dan melarang keras umatnya untuk membujang. Karena dengan menikah akan melahirkan lebih banyak umat nabi Muhammad SAW dan dengan banyaknya umat nabi Muhammad  akan lebih merasa bangga dan megah.

Sabda rasulullah saw :

عن انس بن مالك رضي الله عنه قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يامرنا با لباءة وينهى عن التبتل نهيا شديدا, ويقول : تزوجوا الولود الودود فانى مكاثربكم الامم يوم القيامة. رواه احمد وصححه ابن حبان وله شاهد عند ابى داود والنسائى وابن حبان من حديث معقل بن يسار

Artinya : “dari anas bin malik ra. Ia berkata : Rasulullah SAW telah memerintahkan kami untuk berumah tangga (kawin) dan melarang keras membujang (tidak kawin). Beliau bersabda : “kawinlah dengan wanita yang banyak anak dan besar kasih sayangnya karena sesungguhnya aku dengan kamu berlomba memperbanyak umat dengan para nabi terdahulu  kelak di hari kiamat.” (HR. Ahmad) dan  dishahihkan oleh ibnu hibban. Bagi hadits ini terdapat saksi disisi abu dawud, nasa’I, dan ibnu hibban dari hadits mma’kil bin yasar.

Yang dimaksud dengan kata at-tabattul adalah menjauh dari wanita dan meninggalkan kawin dengan tujuan untuk menekuni ibadah kepada allah. Dalam hal ini umat islam di dunia ini tidak hanya diwajibkan untuk beribadah semata, dan melupakan kedudukannya sebagai makhluk social bermasyarakat yang butuh pendamping hidup dalam menjalankan roda kehidupan berumah tangga.

Pernikahan juga merupakan sunnah nabi dan juga termasuk ibadah bagi orang yang mengikuti dan menunaikannya.

Sabda nabi Muhammad SAW :

عن انس بن مالك رضي الله عنه, ان النبي صلى الله عليه وسلم حمد الله واثنى عليه وقال : لكنى انا اصلى, وانام, واصوم, وافطر, واتزوج النساء, فمن رغب عن سنتى فليس منى. (متفق عليه)

 

Artinya : “dari anas bin malik ra. Bahwasanya nabi saw telah memuji dan menyanjung allah dan beliau bersabda : akan tetapi aku melakukan shalat,  tidur, berpuasa, berbuka, dan mmenikahi wanita. Barang siiapa yang tidak suka terhadap sunnahku (tindakanku), ia bukan termasuk ummatku. (muttafaqun alaih).

Hadits ini terjadi ketika tiga golongan datang ke rumah istri nabi dan menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah mereka diberitahu, seolah-olah mereka tidak setuju salah sorang dari mereka berkata : “aku telah melakukan shalat malam selamanya”. Yang kedua berkata : “aku berpuasa tahun dan tidak berbuka”. Yang ketiga berkata : “aku menjauhkan diri dari perempuan dan tidak kawin. Kemudian nabi SAW dating dan bersabda : “kamulah yang berkata demikian ?”. demi allah, sesungguhnya aku yang paling takut dan bertaqwa kkepada allah di antara kamu, tetapi aku shalat, tidur, berpuasa, berbuka dan menikahi wanita. Barang siapa yang tidak  suka terhadap sunnahku (tindakanku) ia bukan termasuk ummatku.

Hadits ini menunjukkan bahwa nikah atau kawin termasuk di antara sunnah nabi saw. Nikah atau kawin membuat ketentraman dan ketenangan hati manusia agar mereka dapat berlaku sedang dalam beribadah dan sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengganggu dan mengurangi  dalam beribadah.  Seseorang yang sudah menikah akan lebih terfokus terhadap allah dalam menjalankan ibadah kepadanya karena tidak terbebani oleh hal-hal lain yang mencakup masalah wanita. Dan ibadah orang yang sudah menikah dengan orang yang masih membujang itu dihitung beda ibadahnya orang yang sudah menikah balasannya dilipatgandakan dari orang yang belum menikah.

Dari semua hadits tentang larangan nabi saw membujang ini dijadikan dalil oleh ulama’ yang berpendapat atas wajibnya kawin. Ibnu hajar berkata dalam fathul bari : tentang hokum kawin bagi laki-laki, oleh ulama dibagi dalam beberapa macam : bagi orang yang telah menginginkannya yang mampu memikul beban nikah, sedang dia khawatir atas dirinya jatuh dalam larangan agama, maka ia disunatkan kawin menurut kesepakatan ulama’. Golongan hanabilah menambahkan dalam salah satu riwayatnya : diwajibkan kawin. Yang berpendapat seperti itu adalah abu ausanah al-asfiraqini dari ulama’ syafi’iyah sebagaimana yang dijelaskan dalam shahihnya. Sedang al-mas’abi menukilnya dari mukhtashor al-juaini, bahwa pendapat demikian itu ialah pendapat dawud dan kawan-kawan. Syarih berkata : termasuk yang berpendapat demikian ialah al-hadawiyah dengan catatan kalau khawatir jatuh ke dalam ma’shiat jika tidak kawin.

Ibnu hamz berkata : diwajibkan nikah atas orang yang telah berkuasa mengumpuli istri jika ia mampu memikul beban nikah, jika tidak mampu sering-seringlah berpuasa. Demikian pendapat segolongan ulama’ salaf.

Syaikh berkata : pendapat yang masyhur dari ahmad, bahwa bagi orang yang telah berpuasa dan telah menginginkan kawin selagi tidak ada kekhawatiran atas  dirinya jatuh ke dalam mma’shiat. Al-gosbi berkata : orang yang telah mampu yang menghawatirkan dirinya dan agamanya dalam bahaya jika ia tetap membujang dan tidak ada jalan lain melainkan harus kawin maka tidak diperselisihkan lagi atas wajib kawin baginya.

Ibnu doqiqil ‘id meriwayatkan dari al-maziri atas wajibnya kawin bagi orang yang khawatir jatuh dalam kema’siatan dan haram bagi orang yang tidak mampu memikul beban nikah dan mengumpuli istri serta makruh kalau tidak ada bahaya (yang dikhawatirkan) dan lebih dimakruhkan lagi kalau dengan kawin tersebut dapat merusak kebiasaan melakukan keta’atan (ibadah) da sunat. Bagi orang yang dengan kawin itu dapat mematahkan keinginan syahwatnya dan menjaga kehormatan dirinya serta kemaluannya dan mubah apabila factor-faktor yang mendorong untuk kawin dan yang menghalanginya itu berimbang.

Qodi’iyat berkata : disunatkan kawin bagi orang yang mengharapkan keturunan meskipun syahwatnya dingin, demikian juga bagi orang yang menginginkan bersenang-senang dengan perempuan tanpa melakukan pencampuran. Adapun bagi orang yang tidak mempunyai keturunan tidak mempunyai keinginan kawin dan bersenang-senang dengan perempuan maka baginya disunatkan kawin dengan perempuan yang memang mengetahui keadaannya yang demikian itu dan ridha. Ibnu taimiyah berkata di dialam al-ikhtiyarot : tidak menginginkan berkeluarga dan berketurunan adalah sikap tidak disukai oleh allah swt dan rasulnya dan tidak berasal dari ajaran agama para nabi, karena allah swt. Berfirman dalam QS. Ar-Ra’du ayat 38 :

ô‰s)s9ur $uZù=y™ö‘r& Wxߙ①`ÏiB y7Î=ö6s% $uZù=yèy_ur öNçlm; %[`ºurø—r& Zp­ƒÍh‘èŒur 4

“Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan”

 

Dan bagi kedua orang tua tidak berhak memaksa  anaknya untuk kawin dengan orang yang tidak ia sukai agar supaya anak itu tidak menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya sebagaimana memaksakan memakan apa yang ia tidak sukai. Selanjutnya ia berkata : dan bagi orang yang telah berkeinginan untuk kawin dan jatuh ke dalam bahaya maka ia harus mendahulukan kawin daripada ibadah hajji yang wajib. Tetapi jika tidak ada kekhawatiran demikian, maka dia harus mendahulukan haji. Dan imam  ahmad juga berpendapat itulah yang dipilih oleh abu bakar, tetapi jika ibadah itu fardhu kifayah, seperti menuntut ilmu  dan jihad maka haji harus didahulukan daripada nikah, jika tidak dikhawatirkan jatuh dalam bahaya.

 

 

jalan tasauf menuju ma’rifat

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG

Latar belakang berdirinya tasawuf dipicu oleh banyak factor yaitu :1. ada yang mereka berpendapat adari bahasa Yunani.2. mereka yang berpendapat nama tersebut berasal dari “ahlussuffah”.3. ada mereka yang berpendapat berasal dari suatu kelompok yangbiasanya mengenakan pakaian dari bulu shuf.4. ada pula mereka yang mengatakan tasawuf berasal dari kata“Shafa” dalam bahasa Arab dapat diartikan jernih.Dan ada pula para peneliti membagi tasawuf menjadi dua golongan,diantaranya akan di terangkan sebagai berikut :

Golongan pertama, yaitu mereka yang mencari ma’rifat (upayamengenal Dzat Allah). Mereka yang dianggap merupakan sebagai sisa-sisa penganut aliran perguruan filsafat Yunani (Perguruan TinggiAlixandria).

Golongan kedua, yaitu mereka yang berupaya sekuat mungkin dansemaksimal mungkin untuk men sucikan diri dan jiwanya dengan jalanberibadah kepada Allah SWT. Dengan menjauhkan diri persoalankeduniawian dan mengedepankan kepentingan masalah akhirat.

  1. B.     RUMUSAN MASALAH
    1. Pengertian ma’rifat
    2. Ciri ciri orang ‘arif atau orang yang telah sampai kepada ma’rifat
    3. Hakikat
    4. C.    TUJUAN PEMBELAJARAN

Maksud dan tujuan kami dalam penyusunan makalah ini adalah untuk mempermudah memahami taswuf dan ma’rifat dalam amalan manusia.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian Ma’rifat

Ma’rifat artinya mengetahui, mengenal atau juga bisa disebut pengetahuan, dan dalam arti umum ialah ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Dalam kajian ilmu tasawuf “Ma’rifat” adalah “mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan”. Inilah yang dikemukakan Harun Nasution dalam Falsafat & Mistisisme dalam Islam.

Lewat hati sanubarinya, seorang sufi dapat melihat Tuhan. Dan kondisi seperti itu (Ma’rifat) diungkapkan para sufi dengan menyatakan: “Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah SWT”.

Kondisi Ma’rifat dijelaskan dalam Ensiklopedi Islam (jilid tiga) bahwa Ma’rifat merupakan cermin. Jika seorang sufi melihat ke cermin, maka yang akan dilihatnya hanya Allah SWT. Artinya bahwa yang dilihat Orang Arif sewaktu tidur maupun bangun hanya Allah SWT. Dengan ungkapan ini terlihat begitu dekatnya seorang sufi dengan Tuhannya, dan kondisi Ma’rifat ini mengisyaratkan bahwa Ma’rifat adalah anugerah dari Tuhan. Tuhanlah yang berkenan memberikan pengetahuan langsung dengan mengenugerahkan kemampuan kepada orang yang dikehendaki untuk menerima Ma’rifat. Ma’rifat merupakan cahaya yang memancar ke dalam hati, menguasai yang ada dalam diri manusia dengan sinarnya yang menyilaukan. Sekiranya Ma’rifat mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya, dan semua cahaya akan menjadi gelap di samping cahaya keindahannya yang gilang gemilang.

Sufi pertama yang menonjolkan konsep Ma’rifat dalam tasawufnya adalah Zunnun al-Misri (Mesir, 180 H / 796 M – 246 H / 860 M). Ia disebut “Zunnun” yang artinya “Yang empunya ikan Nun”, karena pada suatu hari dalam pengembaraannya dari satu tempat ke tempat lain ia menumpang sebuah kapal saudagar kaya. Tiba-tiba saudagar itu kehilangan sebuah permata yang sangat berharga dan Zunnun dituduh sebagai pencurinya. Ia kemudian disiksa dan dianiaya serta dipaksa untuk mengembalikan permata yang dicurinya. Saat tersiksa dan teraniaya itu Zunnun menengadahkan kepalanya ke langit sambil berseru: ”Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Tahu”. Pada waktu itu secara tiba-tiba muncullah ribuan ekor ikan Nun besar ke permukaan air mendekati kapal sambil membawa permata di mulut masing-masing. Zunnun mengambil sebuah permata dan menyerahkannya kepada saudagar tersebut.

Dalam pandangan umum Zunnun sering memperlihatkan sikap dan perilaku yang aneh-aneh dan sulit dipahami masyarakat umum. Karena itulah ia pernah dituduh melakukan Bid’ah sehingga ditangkap dan dibawa ke Baghdad untuk diadili di hadapan Khalifah al-Mutawakkil (Khalifah Abbasiyah, memerintah tahun 232 H / 847 M – 247 H / 861 M). Zunnun dipenjara selama 40 hari. Selama di dalam penjara, saudara perempuan Zunnun setiap hari mengirimkan sepotong roti, namun setelah dibebaskan, di kamarnya masih didapati 40 potong roti yang masih utuh.

Menurut Abu Bakar al-Kalabazi (W. 380 H / 990 M) dalam al-Ta’aruf li Mazahib Ahl at Tasawwuf (Pengenalan terhadap mazhab-mazhab Ahli Tasawuf), Zunnun telah sampai pada tingkat Ma’rifat yaitu maqam tertinggi dalam Tasawwuf setelah menempuh jalan panjang melewati maqam-maqam: Taubat, Zuhud, Faqir, Sabar, Tawakal, Ridha dan Cinta atau Mahabbah. Kalau Ma’rifat adalah mengetahui Tuhan dengan hati sanubari, maka Zunnun telah mencapainya. Maka, ketika ditanya tentang bagaimana Ma’rifat itu diperoleh ia menjawab : “Araftu rabbi bi rabbi walau la rabbi lama araftu rabbi”. (Aku mengetahui Tuhanku karena Tuhanku, dan sekiranya tidak karena Tuhanku, niscaya aku tidak akan mengetahui Tuhanku). Kata-kata Zunnun ini sangat populer dalam kajian ilmu Tasawwuf.

Zunnun mengetahui bahwa Ma’rifat yang dicapainya bukan semata-mata hasil usahanya sebagai sufi, melainkan lebih merupakan anugerah yang dilimpahkan Tuhan bagi dirinya. Ma’rifah tidak dapat diperoleh melalui pemikiran dan penalaran akal, tetapi bergantung pada kehendak dan rahmat Tuhan. Ma’rifat adalah pemberian Tuhan kepada Sufi yang sanggup menerimanya.

Selanjutnya ketika mengungkapkan tokoh Zunnun Ensiklopedi Islam menjelaskan bahwa Zunnun membagi Ma’rifat ke dalam tiga tingkatan yaitu:

1. Tingkat awam. Orang awam mengenal dan mengetahui Tuhan melalui ucapan Syahadat.

2. Tingkat Ulama. Para Ulama, cerdik – pandai mengenal dan mengetahui Tuhan berdasarkan logika dan penalaran akal.

3. Tingkat Sufi. Para Sufi mengetahui Tuhan melalui hati sanubari.

Ma’rifat yang sesungguhnya adalah Ma’rifat dalam tingkatan Sufi, sedangkan Ma’rifat pada tingkat awam dan tingkat ulama lebih tepat disebut ilmu. Zunnun membedakan antara ilmu dan Ma’rifat.

B.Ciri-ciri orang ‘Arif atau orang yang telah sampai kepada Ma’rifat

1. Cahaya Ma’rifatnya yang berupa ketaqwaan tidak pernah padam dalam dirinya.

2. Tidak meyakini hakikat kebenaran suatu ilmu yang menghapuskan atau membatalkan Zahirnya.

3. Banyaknya nikmat yang dianugerahkan Tuhan kepadanya tidak membuatnya lupa dan melanggar aturan Tuhan.

Dijelaskan bahwa akhlaq Sufi tidak ubahnya dengan akhlaq Tuhan. Ia baik dan lemah lembut serta senantiasa berusaha agar seluruh sikap dan perilakunya mencerminkan sifat-sifat Tuhan.

Namun demikian untuk mencapai tingkat ini tidaklah mudah meskipun selintas dapat dipahami bahwa Ma’rifat didapat dengan ikhlas beribadah dan sungguh-sungguh mencintai dan mengenal Tuhan, sehingga Allah SWT berkenan menyingkap tabir dari pandangan Sufi untuk menerima cahaya yang dipancarkan, yang pada akhirnya Sufi dapat melihat keindahan dan keesaan-Nya. Jalan yang dilalui seorang Sufi tidaklah mulus dan mudah. Sulit sekali untuk pindah dari satu maqam ke maqam yang lain. Untuk itu seorang Sufi memang harus melakukan usaha yang berat dan waktu yang panjang, bahkan kadang-kadang ia masih harus tinggal bertahun-tahun di satu maqam.

Dalam pada itu Ma’rifatpun harus dicapai melalui proses yang terus-menerus. Semakin banyak seorang Sufi mencapai Ma’rifat, semakin banyak yang diketahui tentang rahasia-rahasia Tuhan, meskipun demikian tidak mungkin Ma’rifatullah menjadi sempurna, karena manusia sungguh amat terbatas, sementara Tuhan tidak terbatas. Karena itu al-Junaid al-Baghdadi, seorang tokoh Sufi modern berkomentar tentang keterbatasan manusia dengan mengatakan “Cangkir teh takkan mungkin menampung semua air laut”.

Paham Ma’rifat yang dikemukakan oleh Zunnun Al-Misri dapat diterima al-Ghazali sehingga paham ini mendapat pengakuan Ahlussunah wal Jama’ah. Al-Ghazali sebagai figur yang berpengaruh di kalangan Ahlussunah wal Jama’ah diakui dapat menjadikan Tasawwuf diterima kaum syari’at. Sebelumnya para ulama memandang Tasawuf seperti yang diajarkan al-Bustami (W. 261 H / 874 M) dan al-Hallaj (244 – 309 H / 858 – 922 M) khususnya menyimpang dengan paham Hulul / Ittihad / penyatuan yang dalam pemahaman “Kejawen” dikenal dengan “Manunggaling Kawulo Gusti”

  1. Hakikat

Dalam Tasawuf hakikat adalah imbangan kata syariat yang identik dengan aspek kerohanian dalam ajaran Islam. Untuk merintis jalan mencapai hakikat seseorang harus memulai dengan aspek moral yang dibarengi aspek ibadah. Bila kedua aspek ini diamalkan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan akan dapat meningkatkan kondisi mental seseorang dari tingkat rendah secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi. Pada posisi tertinggi Tuhan akan menerangi hati sanubarinya dengan nur-Nya, sehingga ia betul-betul dapat dekat dengan Tuhan, mengenal Tuhan dan melihat-Nya dengan mata hatinya.

Di kalangan Sufi orang yang telah mencapai tingkatan ini disebut ahli hakikat. Kalau dihubungkan dengan Tuhan, hakikat adalah sifat-sifat Allah SWT, sedangkan Zat Allah disebut al-Haqq. Sufi yang dikenal dengan faham hakikat adalah Abu Yazid al-Bustami dan al-Hallaj yang pernah menyatakan “Ana al-Haqq”.

Pembicaraan mengenai masalah ini tentu tidak bisa dilepaskan dari konsep Ittihad, Hulul dan Tawhid yang dalam pemahaman selintas dapat diartikan sebagai penyatuan makhluk dan Khalik. Para ulama Syari’at dalam Islam memandang konsep ini bertentangan dengan Islam. Oleh karena itu sebagaimana diketahui al-Hallaj mati dibunuh karena mempunyai faham Hulul dan seperti di Jawa Syekh Siti Jenar juga mengalami hal serupa. Kaum Sufi yang mempunyai faham ini kelihatannya merasa takut untuk membicarakan Ittihad, Hulul dan Tawhid. Karena itulah uraian tentang hal ini hanya dijumpai dalam karangan-karangan modern dan tulisan-tulisan para Orientalis.

Ittihad adalah satu tingkatan dalam Tasawuf ketika seorang Sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan. Saat itulah terjadi penyatuan antara yang mencintai dan yang dicintai. Dalam kondisi Ittihad seperti inilah satu sama lain dapat memanggil Ya Ana (wahai aku). Meskipun yang terlihat hanya satu wujud pada hakekatnya terdapat dua wujud yang berbeda.

Adapun Hulul berarti menempati atau mengambil tempat. Dalam Tasawuf, Hulul berarti suatu keadaan (hal) yang dicapai seorang Sufi ketika aspek an-nasut (sifat kemanusiaan) Allah SWT bersatu dengan aspek al-Lahut (sifat ketuhanan) yang ada pada manusia. Hulul merupakan salah satu bentuk kebersatuan antara Allah SWT dan manusia. Kondisi ini dapat terjadi apabila manusia dapat mencapai Fana’ dengan menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan yang dimilikinya sehingga yang tersisa hanyalah sifat-sifat ketuhanannya. Sebagaimana dijelaskan oleh Harun Nasution bahwa sebelum seorang Sufi dapat bersatu dengan Tuhan ia harus lebih dahulu menghancurkan dirinya. Selama ia belum dapat menghancurkan dirinya, yaitu selama ia masih sadar akan dirinya, ia tak akan dapat bersatu dengan Tuhan. Penghancuran diri ini dalam Tasawuf disebut Fana’.

Penghancuran diri dalam Fana’ ini senantiasa diiringi dengan Baqa’ yang berarti tetap atau terus hidup. Fana’ dan Baqa’ merupakan dua sisi mata uang atau kembar dua sebagaimana penjelasan Sufi “Jika kejahilan (kebodohan) seseorang hilang yang akan tinggal ialah pengetahuan”.

Pada saat seorang Sufi telah mencapai hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia dalam arti tidak disadarinya maka yang akan tinggal hanyalah wujud rohaninya dan ketika itulah ia dapat bersatu dengan Tuhan. Dalam kajian Tasawuf, Abu Yazid al-Bustamilah (W. 874 M) yang dipandang sebagai Sufi pertama yang memunculkan faham Fana’ dan Baqa’.

Faham tersebut tersimpul dalam kata-katanya: Aku tahu pada Tuhan melalui diriku, hingga aku hancur, kemudian aku tahu pada-Nya melalui diri-Nya, maka akupun hidup”. Selanjutnya ia pun mengungkapkan: “Ia membuat aku gila pada diriku sehingga aku mati, kemudian Ia membuat aku gila pada-Nya, dan akupun hidup…….Aku berkata: Gila pada diriku adalah kehancuran dan gila pada-Mu adalah kelanjutan hidup”.

Kelihatannya http://titianilahi.wordpress.com/2009/11/03/zhunun-al-misri/Zunnun Al-Misri baru sampai ke tingkat Ma’rifat sementara Abu Yazid al-Bustami telah melewati tingkat tersebut dan mencapai Fana’ dan Baqa’ seterusnya Ittihad, bersatu dengan Tuhan. Dalam keadaan Hulul seorang Sufi dapat mengeluarkan kata-kata yang aneh dalam pendengaran awam, seperti yang diucapkan oleh al-Hallaj: “Ana al-Haqq (Aku adalah Yang Maha Benar)”. Dalam istilah Sufi ungkapan-ungkapan seperti ini disebut Syatahat. Munculnya istilah seperti ini disebabkan oleh rasa cinta yang berlimpah. Menurut faham Hulul al-Hallaj, sebenarnyalah yang mengeluarkan kata-kata tersebut bukan roh al-Hallaj, melainkan unsur an-nasut Allah yang sedang mengambil tempat bersatu dengan unsur al-lahut al-Hallaj. Bukan pula pada Zat Allah, melainkan unsur an-nasut-Nya yang mengambil tempat pada unsur lahut manusia. Hal ini terlihat dari ungkapan syairnya: “Aku adalah Rahasia Tuhan Yang Maha Benar, dan bukanlah yang Maha Benar itu Aku, Aku hanya satu dari yang benar, bedakanlah antara kami atau aku dan Dia Yang Maha Benar”.

Dalam Hulul proses kemanunggalan Allah SWT dan manusia itu adalah Allah SWT turun mengisi dan memasuki serta mengambil tempat pada tubuh-tubuh manusia yang Ia pilih, sedangkan dalam Ittihad roh manusia naik (Mi’raj), lebur manunggal di alam Ketuhanan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Ma’rifat artinya mengetahui, mengenal atau juga bisa disebut pengetahuan, dan dalam arti umum ialah ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Dalam kajian ilmu tasawuf “Ma’rifat” adalah “mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan”.

Ma’rifat ke dalam tiga tingkatan yaitu: Tingkat awam. Orang awam mengenal dan mengetahui Tuhan melalui ucapan Syahadat. Tingkat Ulama. Para Ulama, cerdik – pandai mengenal dan mengetahui Tuhan berdasarkan logika dan penalaran akal. Tingkat Sufi. Para Sufi mengetahui Tuhan melalui hati sanubari

Dalam Tasawuf hakikat adalah imbangan kata syariat yang identik dengan aspek kerohanian dalam ajaran Islam. Untuk merintis jalan mencapai hakikat seseorang harus memulai dengan aspek moral yang dibarengi aspek ibadah. Bila kedua aspek ini diamalkan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan akan dapat meningkatkan kondisi mental seseorang dari tingkat rendah secara bertahap ke tingkat yang lebih tinggi. Pada posisi tertinggi Tuhan akan menerangi hati sanubarinya dengan nur-Nya, sehingga ia betul-betul dapat dekat dengan Tuhan, mengenal Tuhan dan melihat-Nya dengan mata hatinya.

B. SARAN

Mengingat manusia tidak luput dari kesalahan, makalah yang kami susun inipun masih banyak kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dari masyarakat pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Kepada Dosen pengajar diharapkan bimbingan lebih untuk mengingatkan mutu dan kwalitas mahasiswa PAI pada khususnya didalam mengembangkan ilmutafsir demi terwujudnya hubungan mahasiswa dengan masyarakat.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qusyayri, Risalah Sufi, Bandung: Pustaka Setia, 1990.

Armai Arief, Reformulasi Pendidikan Islam, Jakarta: Crsd Press, 2005.

Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

Al-Kalabadzi, Al-Ta’aruf li Mazhabi Ahli al-Tasawwuf, Kairo: Maktabah al-Kulliyah al-Azhar, 1969.

Ary Ginanjar Agustian, Membangaun Rahasia Sukses Kecerdasan Emosi dan Spiritual, Jakarta: Arga, 2005.

PENDIDIKAN ISLAM

PENDIDIKAN ISLAM

    Menurut Langeveld, Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing kepada manusia yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan.

Menurut Ahmad D Marimba, pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.

Dengan  demikian pendidikan dalam arti luas adalah meliputi perbuatan atau usaha generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya, pengalamannya, serta ketrampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmani maupun rohaniah.

Pendidikan dapat ditinjau dari Dua segi yaitu dari pandangan masyarakat dan dari segi pandangan Individu.

–          Dari segi pandangan Masyarakat: pendidikan berarti pewarisan kebudayaan dari generasi Tua kepada generasi Muda agar hidup Masyarakat itu tetap berkelanjutan.

–          Dilihat dari segi pandangan Iindividu, pendidikan berarti pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi, dengan kata lain, kemakmuran manusia tergantung pada keberhasilan pendidikannya dalam mencari dan menggarap kekayaan yang terpendam pada setiap Individu.

Pengertian pendidikan Islam itu dikaitkan dengan konsep kejadian manusia yang dari sejak awal kejadiannya sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai ciri dasar dengan dibekali potensi hidayah Akal dan Ilmu. Di samping mengabdi sebagai Khalifah di muka bumi untuk memikul amanat dan tanggung jawab. Jadi pengertian pendidikan islam adalah merupakan usaha sadar untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan segala potensi yang di anudrahkan oleh Allah kepadanya agar mampu mengemban amanat dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi dalam pengabdiannya kepada Allah.

Oleh karna itu, perlu diadakan pemikiran kembali terhadap tujuan dan fungsi lembaga pendidikan islam agar secara fungsional pada satu sisi mampu mengemban misi manusia sebagai khalifah Allah dimuka bumi, dan pada sisi lain menjadi lembaga spesialisasi pada bidangnya yaitu di bidang agama.

Dari berbagai definisi diatas, maka pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses yang di sosialisasikan sebagai usaha dalam rangka membimbing anak didik terhadap perkembangan jasmani, dan rohaninya. Untuk menjadi bekal kelak dimasa depan yang mempunyai skepribadian utama, kebaikan, dan kegemaran dalam bekerja untuk tanah air. Dalam arti dapat menjadi anak-anak yang berima,  bertaqwa dan mempunyai Akhlak mulia.